Di setiap sudut pasar tradisional Jawa Tengah, ada satu pemandangan yang hampir selalu sama: nampan besar beralas daun pisang, penuh jajanan warna-warni. Getuk, klepon, serabi, lumpia, sampai wingko—semuanya menggoda, bukan hanya karena rasanya, tetapi karena membawa memori masa kecil dan nuansa kampung halaman.
Tak berlebihan kalau jajanan tradisional Jawa Tengah disebut sebagai wajah lain dari budaya Jawa: sederhana, hangat, dan sarat makna kebersamaan. Tulisan ini mengajak kamu menjelajah dunia jajanan pasar khas Jawa Tengah, lengkap dengan jenis-jenis populer, asal daerah, hingga tantangan pelestariannya di era makanan modern.
1. Karakter Jajanan Tradisional Jawa Tengah: Manis, Kenyal, Penuh Kenangan
Berdasarkan berbagai ulasan kuliner, ciri umum jajanan tradisional Jawa Tengah adalah:
-
Bahan lokal: singkong, ketan, tepung beras, kelapa, gula jawa.
-
Tekstur dominan: kenyal, lembut, legit; sebagian lain renyah (intip, mendoan) atau sedikit garing (wingko, lumpia).
-
Rasa: manis-gurih, dengan aroma kuat dari daun pandan, daun pisang, atau parutan kelapa.
-
Fungsi sosial: disajikan saat acara hajatan, arisan, pengajian, hingga selamatan kantor—melambangkan keramahan tuan rumah.
Portal-portal seperti Liputan6 dan kumparan menyebut, sebagian jajanan ini mulai langka karena beberapa faktor: penjual berkurang, proses pembuatan rumit, serta selera masyarakat yang bergeser ke camilan praktis dan instan.
Namun di banyak pasar, jajanan tradisional Jawa Tengah masih bertahan. Sebagian bahkan naik kelas jadi oleh-oleh premium dengan kemasan lebih modern.
2. Jajanan Berbahan Singkong: Getuk, Intip, dan Geblek
Getuk: Ikon Magelang yang Menyelamatkan di Masa Krisis
Getuk mungkin adalah jajanan tradisional Jawa Tengah yang paling identik dengan daerah Magelang. Sejumlah media lokal menceritakan bahwa getuk lahir pada masa sulit, ketika beras langka di masa penjajahan, sehingga singkong dijadikan sumber karbohidrat utama.
Ciri khas getuk:
-
Bahan: singkong rebus yang ditumbuk, dicampur gula (merah atau pasir) dan garam.
-
Penyajian: dipotong-potong, kadang diberi pewarna makanan untuk tampilan menarik, lalu ditaburi kelapa parut.
-
Varian: getuk lindri (dipipihkan dan dicetak beralur), getuk trio (tiga warna), getuk goreng Sokaraja, hingga getuk ubi/talas.
Getuk bukan hanya camilan; ia juga simbol ketahanan masyarakat lokal memanfaatkan bahan sederhana untuk bertahan hidup—yang kemudian bertransformasi menjadi jajanan ikonik.
Intip: Kerak Nasi yang Naik Kelas
Intip adalah jajanan khas daerah Solo – Karanganyar, berupa kerak nasi yang dikeringkan lalu digoreng hingga mengembang dan renyah. Detik mencatatnya sebagai salah satu jajanan tradisional Jawa Tengah yang masih banyak diburu sebagai camilan gurih.
Biasanya intip:
-
Disajikan polos atau diberi bumbu manis pedas,
-
Banyak dijual dalam bentuk bulat besar, cocok sebagai camilan bersama teh hangat.
Geblek: Camilan Kenyal dari Purworejo
Geblek berasal dari Purworejo (Jateng) dan juga populer di Kulon Progo (DIY). Bentuknya bulat-bulat melingkar, berwarna putih, terbuat dari tepung singkong yang digoreng. Kumparan mencatat geblek sebagai salah satu jajanan tradisional Jawa Tengah yang masih bertahan di pasar dan warung kecil.
Tekstur geblek:
-
Kenyal di dalam, sedikit garing di luar,
-
Biasanya disajikan hangat dengan cocolan sambal kacang.
Ketiga jajanan ini sama-sama membuktikan bahwa singkong bukan sekadar pengganti nasi, tapi sumber ide kuliner yang kreatif.
3. Kue Ketan & Kelapa: Klepon, Wajik, dan Wingko Babat
Klepon: Ledakan Gula Jawa di Mulut
Walau dikenal luas sebagai jajanan Nusantara, klepon di banyak artikel ditempatkan juga sebagai jajanan tradisional Jawa Tengah yang masih eksis di pasar-pasar daerah.
Ciri khas klepon:
-
Terbuat dari tepung ketan dengan pewarna hijau pandan,
-
Diisi gula jawa cair,
-
Ditaburi kelapa parut.
Sensasi “meletusnya” gula jawa di mulut ketika digigit membuat klepon selalu jadi favorit lintas generasi.
Wajik: Manis Legit, Tahan Lama
Wajik adalah kue ketan yang dimasak dengan gula merah dan santan hingga kalis, lalu dipotong berbentuk belah ketupat atau kotak. Jajanan ini sering masuk daftar jajanan tradisional Jawa Tengah yang hadir di acara hajatan karena:
-
Rasanya manis legit,
-
Tekstur kenyal,
-
Relatif tahan lama, cocok untuk seserahan atau bingkisan.
Wingko Babat: Oleh-Oleh dari Semarang
Wingko Babat banyak dikaitkan dengan Semarang, bahkan masuk dalam daftar makanan khas kota ini di beberapa portal.
Wingko:
-
Terbuat dari kelapa muda, tepung ketan, gula,
-
Umumnya berbentuk bulat pipih, dipanggang hingga bagian luar agak garing,
-
Menghadirkan perpaduan rasa manis-gurih dengan aroma kelapa panggang.
Sebagai jajanan tradisional Jawa Tengah, wingko punya kelebihan: bisa dikemas dan awet, sehingga ideal sebagai oleh-oleh.
4. Kue Beras & Santan: Serabi Solo, Kue Lapis, dan Apem
Serabi Solo: Lembut di Tengah, Renyah di Pinggir
Serabi Solo (Serabi Notosuman) hampir selalu muncul di daftar jajanan tradisional Jawa Tengah.
Karakter serabi Solo:
-
Terbuat dari tepung beras dan santan,
-
Tekstur lembut di tengah, pinggirannya tipis dan renyah,
-
Ada varian original dan topping (cokelat, keju, pandan).
Serabi biasa disajikan dengan kuah kinca (gula merah + santan) atau dimakan langsung.
Kue Lapis: Simbol Kesabaran
Kue Lapis juga umum ditemui di pasar-pasar Jawa Tengah. Good News From Indonesia dan Bogana An Lay mengelompokkannya sebagai salah satu jajanan pasar favorit untuk acara hajatan.
Terbuat dari:
-
Tepung beras/tepung sagu, santan, gula,
-
Disusun berlapis-lapis warna-warni,
-
Biasanya dimakan dengan cara “diserut” per lapis, yang sering jadi nostalgia masa kecil.
Apem: Kue Tradisi yang Masih Eksis
Apem adalah kue berbahan tepung beras, santan, dan tape yang difermentasi, menghasilkan tekstur empuk dan rasa sedikit asam-manis. Kumparan dan Bogana An Lay menempatkan apem di jajaran jajanan tradisional Jawa Tengah yang sering muncul di pengajian dan syukuran.
Di banyak tempat, apem juga punya makna religius/spiritual terkait permohonan maaf dan pengharapan rezeki.
5. Ikon Pasar & Oleh-Oleh: Lumpia Semarang, Roti Ganjel Rel, dan Enting-Enting Gepuk
Lumpia Semarang: Perpaduan Jawa–Tionghoa
Hampir semua daftar kuliner Jawa Tengah selalu mencantumkan Lumpia Semarang.
Ciri khas:
-
Kulit tipis digoreng garing atau basah,
-
Isian utama rebung (bambu muda), sering dipadukan ayam/udang,
-
Disajikan dengan saus kental dan acar.
Lumpia adalah contoh kuat bagaimana jajanan tradisional Jawa Tengah lahir dari akulturasi budaya.
Roti Ganjel Rel: Roti Bantat yang Legendaris
Roti ganjel rel adalah jajanan khas Semarang, mirip roti gambang Betawi. IDN Times mencatat roti ini sebagai roti bantat bertekstur padat dan beraroma rempah, sering disajikan dalam tradisi Dugderan menyambut Ramadan.
Walau bukan “jajanan pasar basah” dalam arti klasik, ia tetap masuk kategori jajanan tradisional karena perannya dalam budaya lokal.
Enting-Enting Gepuk & Jenang Kudus
Enting-enting gepuk dari Salatiga dan jenang Kudus juga sering masuk daftar jajanan tradisional:
-
Enting-enting: kacang tanah yang dimasak dengan gula, dipadatkan, dan dipotong.
-
Jenang Kudus: dodol khas dari Kudus, tekstur kenyal-manis, populer sebagai oleh-oleh.
Keduanya mengisi ceruk “camilan manis tahan lama” yang cocok untuk perjalanan dan bingkisan.
6. Jajanan Tradisional Jawa Tengah yang Mulai Langka
Liputan6 secara khusus mengangkat tema jajanan tradisional Jawa Tengah yang mulai langka, menyebut contoh: clorot, grontol, jenang krasikan, kue mendut, sengkulun, dan sejenisnya.
Beberapa faktor utama:
-
Proses pembuatan rumit dan lama,
-
Keuntungan kecil dibandingkan camilan instan modern,
-
Regenerasi penjual yang minim,
-
Bahan tertentu sulit atau makin mahal.
Padahal, jajanan seperti kue mendut (ketan isi kelapa-gula, dibungkus daun pisang), clorot (kue beras manis dalam gulungan daun lontar), atau krasikan punya nilai estetis dan sejarah yang tinggi.
7. Peran Jajanan Pasar dalam Hajatan dan Tradisi Masyarakat Jawa Tengah
Portal-portal seperti Bogana An Lay menekankan bahwa jajanan tradisional Jawa Tengah masih jadi “bintang pendamping” dalam berbagai acara: hajatan, arisan, rapat RT, sampai pengajian.
Umumnya disajikan dalam:
-
Nampan bundar atau tampah beralas daun pisang,
-
Berisi kombinasi manis–gurih: lemper, risoles, kue lapis, klepon, getuk, serabi mini, dll.
Fungsinya bukan hanya pengisi perut:
-
Simbol keramahan tuan rumah,
-
Menunjukkan kemampuan menghidangkan “yang tradisional dan pantas”,
-
Media mempertahankan resep keluarga lintas generasi.
8. Modernisasi Jajanan Tradisional: Dari Pasar ke Toko Oleh-Oleh & Online
Tren beberapa tahun terakhir:
-
Banyak UMKM dan brand makanan memodernisasi jajanan tradisional: kemasan vakum, varian rasa baru, bentuk lebih kecil (mini), hingga penjualan lewat marketplace dan media sosial.
-
Lumpia, wingko, serabi, dodol/jenang, bahkan getuk sudah punya versi premium, dengan branding dan desain kemasan yang menyasar wisatawan muda.
Modernisasi ini punya dua sisi:
-
Positif: memperluas pasar dan menjaga jajanan tradisional Jawa Tengah tetap relevan.
-
Risiko: perubahan rasa terlalu jauh dari versi asli, serta dominasi pemain besar yang bisa menekan produsen kecil.
9. Tips Berburu Jajanan Tradisional Jawa Tengah bagi Wisatawan
Untuk wisatawan yang ingin merasakan versi paling otentik:
-
Datangi pasar tradisional pagi hari.
Mayoritas jajanan pasar dijual pagi; lewat jam 10–11 siang biasanya sudah habis. -
Fokus per kota:
-
Semarang: lumpia, wingko, ganjel rel, tahu gimbal, kue lumpang.
-
Solo: serabi Notosuman, intip, selat Solo (bukan jajanan, tapi bisa diserempet), aneka jajan pasar di sekitar Pasar Gede.
-
Magelang & sekitarnya: getuk, getuk trio, jajanan singkong lain.
-
Kudus & Pati: jenang Kudus, kue mendut, dan beberapa jajanan santan-gula khas pesisir.
-
-
Cek pusat oleh-oleh resmi.
Cocok untuk jajanan yang perlu daya tahan lebih (wingko, enting-enting, jenang). -
Gunakan kata kunci lokal saat mencari online.
Misalnya “getuk Magelang asli”, “wingko Semarang rumahan”, “serabi Notosuman”.
10. Menjaga Eksistensi Jajanan Tradisional Jawa Tengah di Tengah Serbuan Camilan Modern
Agar jajanan tradisional Jawa Tengah tidak sekadar jadi nostalgia di artikel media:
-
Produsen kecil perlu didukung: lewat pembelian langsung, promosi di media sosial, dan kolaborasi dengan kafe/komunitas.
-
Generasi muda perlu diajak belajar resep: banyak platform resep (Cookpad, blog kuliner) sudah menuliskan resep getuk, klepon, serabi, dll.
-
Pemerintah daerah & komunitas pariwisata dapat menjadikan jajanan tradisional sebagai bagian paket wisata kuliner—bukan hanya makanan berat seperti soto atau nasi liwet.
Pada akhirnya, keberlangsungan jajanan ini ditentukan oleh satu hal sederhana: masih ada yang mau membelinya dan bangga menyajikannya.















